Rumah sakit yang biasanya ramai tiap kali saya kunjungi, kini sepi banget padahal masih siang.
Karena saat itu saya datang di hari libur, dan rumah sakit tutup yang artinya saya ngga bisa masuk lewat entrance yang biasa, jadinya saya masuk lewat pintu UGD.
Saya memencet bel di depan pintu UGD, menyebutkan nama dan tujuan saya, lalu masuk setelah operator di dalam membukakan pintu.
Pengalaman yang beda banget dan ngga bakal terlupakan, masuk ke UGD dengan segar bugar, daftar di resepsionis buat rawat inap dan operasi, lalu jalan sendiri menuju ruang rawat inap.
Ruang rawat inap yang akan jadi “tempat tinggal” saya selama beberapa hari/minggu ke depan ada di lantai tiga.
Setelah keluar dari lift, saya menuju pintu yang lagi-lagi harus pencet bel, menyebutkan nama dan tujuan karena ngga bisa dibuka sembarangan demi keamanan.
Seorang perawat perempuan datang menjemput saya, mengenalkan diri, dan menjelaskan beberapa hal saya diantar ke kamar saya. Kamar yang akan saya tempati berupa sebuah ruangan besar dengan 4 kamar tidur untuk 4 pasien, dilengkapi pemisah gorden yang lebar menutupi setiap kamar dan tempat tidurnya, sehingga privacy tetap terjaga.
Saya sengaja meminta kamar barengan, supaya kalau tidur malem ngga celingak celinguk sendirian di kamar rumah sakit 😂
Tempat rawat inap kali ini khusus untuk seluruh pasien dari bagian Ginekologi, jadi semua pasiennya Perempuan, dan ada kamar khusus untuk bayi yang baru lahir. Pagi, siang, malam kadang terdengar suara tangis bayi, jadi ngga bikin rumah sakit sepi banget dan terasa angker.
Hari pertama, perawat menjelaskan beberapa aturan di rumah sakit, memandu saya ke beberapa fasilitas seperti toilet, washroom, shower room, resepsionis, lounge dan pritilan lainnya. Saya juga diberi penjelasan schedule selama dirawat, mulai hari pertama, saat hari operasi dan recovery setelah operasi.
![]() |
| Makan siang di hari pertama di rumah sakit |
Perawat di rumah sakit ternyata beda-beda sesuai dengan job desknya. Perawat yang pertama ngejelasin rule dasar selama dirawat di rumah sakit sekaligus yang rutin mengecek kondisi pasien, trus datang lagi perawat yang khusus menangani obat-obatan yang dikonsumsi pasien, terakhir perawat bagian anestesi, karena selama operasi saya akan dibius total.
Perawat yang terakhir melihat gantungan tas saya yaitu boneka Zenitsu, dan juga nendroid yang saya bawa Tanjiro sama Zenitsu, dia bilang, “suka sama Zenitsu ya? Cute banget ya!” saya jawab, “iya, suka banget! Buat omamori (jimat pelindung) saat operasi nanti dan selama di sini.”
Besoknya, hari yang ditunggu-tunggu!
Saya puasa dari semalam hingga waktu operasi yang dijadwalkan siang hari.
Pagi-pagi banget perawat datang ke kamar saya, mengecek kondisi dan memberikan obat pencahar yang dimasukkan lewat anus, karena saat operasi perut harus clean. Baru 1 menit setelah obat pencahar masuk, saya langsung mules dan buru-buru lari ke toilet, karena takut cepirit, saya jalan menuju toilet dengan merapatkan dua kaki saya, kayak penguin😂
1 jam sebelum operasi, perawat datang lagi ke kamar saya. Saya diminta ganti baju operasi, pakai celana dalam yang kayak pempers, dan stocking untuk menghindari kaki bengkak selama dan setelah operasi.
Lalu, saya jalan kaki dengan santai menuju kamar operasi ditemani seorang perawat, daftar di resepsionis dan masuk sendiri.
Ini beneran mau operasi besar?! 😁
Saya bersyukur banget bisa ke kamar operasi sendiri, dengan kondisi badan dan pikiran yang tenang dan sehat, karena saya yakin operasinya akan berjalan dengan lancar.
Ketika memasuki kamar operasi, suhu ruangan terasa sejuuuuk banget, bahkan dingin kayak di kulkas. Saya melihat ada tiga orang yang sudah menunggu saya di depan tempat tidur, satu dokter ahli anestesi dan dua asisten-nya.
Saya tidur terlentang sesuai instruksi dokter anestesi, kemudian berbalik ke sebelah kanan karena akan ada jarum dan selang yang dipasang di punggung.
Saya kurang ingat detailnya, tapi kalau ngga salah anestesi di lengan dan punggung, lalu selang untuk pereda nyeri juga dipasang di punggung.
Suhu ruang operasi yang dingin ditambah jarum dingin menusuk lengan dan punggung saya, membuat saya sedikit menggigil.
Salah satu asistennya bilang akan menghitung sampai sepuluh dan saya akan hilang kesadaran setelah itu. Tapi, yang saya ingat, baru di hitungan ke-4, kayaknya udah blur aja😂
Setelah itu saya tidak ingat apa-apa.
.
.
Saya membuka mata…
Hal pertama yang saya rasakan bukan sakit.
Tapi bingung.
Saya bahkan tidak yakin waktu itu pagi atau malam.
Semua terdengar jauh, seperti ada yang berbicara dari balik kabut.
Dokter yang menangani saya ada di samping saya dan berkata, “Operasinya sudah selesai dan lancar! Selamat ya! Coba pegang perut kamu deh! Coba pegang! Jadi slim lho!”
Saya yang masih setengah sadar, cuma bisa bengong saat itu dan rasanya pengen bilang sama Dokter, “Dok, kayaknya ini bukan saatnya saya ngelus-ngelus perut deh…😂”
dan saya cuma menggerang perlahan.
Karena saya ngga pakai kacamata atau lensa kontak, saya tidak begitu jelas melihat sekeliling saya, tapi saya yakin dokter saat itu senyum dan bilang, “nanti kalau sudah sadar sepenuhnya, kita ngobrol lagi ya.” dan saya pun cuma mengangguk pelan,
lalu kembali terlelap.
Saya terbangun lagi ketika mendengar suara dua orang perawat di dekat saya sedang berbicara. Melihat saya terbangun, mereka mendekati saya dan memperkenalkan diri, katanya saat ini waktunya pergantian shift, jadi perawatnya berbeda dengan yang tadi sore. Saya pun berasumsi, mungkin saat ini sekitar jam 4-5 pagi, karena biasanya di jam segitu perawat gantian shift.
Salah satu perawat mengajak ngobrol supaya saya ngga terlalu pusing karena tidur terus. Saya bercerita dengan pelan tentang dari mana asal saya, hobi saya dan obrolan ringan lainnya.
Satu hal yang saya ingat saat pertama kali bangun adalah lengan kiri saya sakit banget! Mungkin lengan saya berada dalam posisi yang sama terus selama berjam-jam.
![]() |
| Ekspresi Zenitsu mewakili saya ketika pertama kali bangun dengan lengan sakit setelah operasi |
Sambil ngobrol, perawat menimbang berat badan saya. Tau ngga, berat badan saya turun 7 kilo dalam dua hari🤣 Perawat membandingkan berat badan saya saat masuk rumah sakit di hari pertama dan saat sesudah operasi.
Sekitar jam 6 pagi, seorang perawat datang memberikan saya sikat gigi, handuk untuk cuci muka dan kacamata. Saya membersihkan badan dengan setengah berbaring sambil dibantu perawat.
Selang beberapa waktu, dokter yang menangani saya datang.
Karena saya sudah cukup sadar untuk diajak ngobrol, dokter pun menjelaskan detail operasi yang sudah saya jalani.
Katanya, miom rahim saya beratnya 5 kilo lebih!
Dokter dan atasan dia pun kaget karena baru kali ini ada miom seberat itu!
Ditambah pendarahan yang cukup banyak, rahim dan sebelah ovarium diangkat, miom 5 kilo, yah ngga heran kalau berat badan saya berkurang 7 kilo. Dan kali ini saya bisa elus-elus perut saya yang jadi flat dalam dua hari😂
Jadi, buat kalian yang pengen turun berat badan 7 kilo dalam dua hari, udah tau donk rahasianya apa😉
Sekitar jam 10 pagi, perawat datang lagi dan memberikan saya air minum. Katanya dengan kondisi saya yang udah bisa duduk, saya bisa minum air langsung lewat mulut, tapi untuk makanan masih lewat infus.
Ngeliat air di dalam gelas kecil aja berasa ngeliat oasis. Tenggorokan saya tandus banget kayak gurun pasir.
Setelah minum, perawat mengajak saya jalan.
Buset! Semalam baru operasi besar, perut dibuka, rahim diangkat, paginya udah langsung disuruh jalan?!
Ini beneran?!
Perawat bilang, katanya kalau hari ini saya bisa jalan kaki (walaupun dibantu perawat), saya bisa langsung dipindahkan ke kamar inap biasa, bukan kamar ICU yang saya tempati sekarang.
Lalu, saya pun bisa mulai makan secara bertahap, dari yang cair-cair sampai yang agak padat. Intinya, bisa atau ngga nya saya jalan kaki hari ini, menentukan seberapa cepat recovery saya nanti.
Ngga mau donk lama-lama di kamar ICU, makan lewat infusan mulu, dan dikelilingi selang yang banyak banget. Saya pun berusaha sekeras mungkin sambil nahan sakit di perut untuk turun dari tempat tidur dan jalan-jalan. Dibilang jalan-jalan pun sebenarnya cuma jalan keluar dari kamar, lalu keliling di satu lantai area ICU itu sambil dipegangin perawat.
Sesekali kami berhenti di dekat jendela lalu melihat pemandangan di luar. Pagi itu cerah banget dan rasanya terharu bisa melihat sinar matahari dan pohon-pohon dari jendela lantai 4.
First walk after surgery = achievement unlocked
Rasanya kayak baru lulus marathon, padahal cuma dari tempat tidur lalu keliling area ICU.
![]() |
| Makanan pertama saya setelah lepas infus, aeeer semua |
Saya bersyukur banget bisa mendapatkan perawatan di rumah sakit Jepang, fasilitasnya lengkap, canggih, teratur, bersih, tenang dan nyaman, serta para perawat dan dokter nya ramah tapi tetap tegas serta sabar.
Pengalaman saya pribadi dengan beberapa rumah sakit yang pernah saya kunjungi di Indonesia dulu memang cukup berbeda dengan yang saya rasakan di Jepang. |
![]() |
| Seneng banget kalau di menu makanan ada susu |
![]() |
| Beberapa hari setelah operasi, bisa jajan cemilan di minimarket itu rasanya happy banget! |
Seminggu setelah operasi, saya akhirnya berdiri di depan pintu rumah sakit.
Kali ini bukan sebagai pasien yang baru datang dengan perut penuh miom, melainkan seseorang yang baru saja melewati salah satu operasi terbesar dalam hidupnya.
Badan masih sakit.
Langkah masih pelan.
Tapi saya pulang dengan perasaan yang jauh lebih ringan.
Saya kira bagian tersulit sudah selesai.
Ternyata saya salah.
Karena perjuangan sesungguhnya justru dimulai setelah saya sampai di rumah.
(Bersambung ke bagian 3: Recovery Setelah Histerektomi.)





Comments
Post a Comment