Tentang Teman Main Anime, Tentang Kepercayaan, dan Pelajaran Melepaskan

Beberapa tahun lalu, aku punya seorang teman.

Sebenarnya bukan teman dari awal. Kami kenalan karena pekerjaan.

Saat itu aku bekerja sebagai interpreter yang membantu para peserta magang Indonesia di Jepang. Tugasnya macam-macam, mulai dari membantu urusan kehidupan sehari-hari, pekerjaan, sampai menangani berbagai masalah yang muncul selama mereka tinggal di Jepang.

Dia adalah salah satu peserta magang yang pernah aku dampingi.

Hubungan kami saat itu biasa saja. Profesional. Aku membantu, dia dibantu. Selesai.

Lalu aku resign. Kupikir hubungan kami akan berhenti sampai di situ. 

Ternyata tidak.

Kami masih sesekali bertukar kabar, bertemu, dan hangout layaknya sesama orang Indonesia yang sedang merantau di Jepang.

Seiring waktu, kami menemukan banyak kesamaan. Kami sama-sama suka anime. Sama-sama suka manga. Sama-sama suka mengikuti event 声優 (voice actor)Genre anime favorit kami pun banyak yang sama.

Akhirnya kami sering pergi ke anime cafe, event anime, konser, sampai acara-acara random yang bahkan tidak ada hubungannya dengan anime. Bahkan kami pernah beberapa kali saling menginap di rumah satu sama lain.

Kalau dilihat dari luar, mungkin orang akan menganggap kami cukup dekat. Tapi ternyata kedekatan itu tidak sesederhana yang aku kira.


Hal-hal Kecil yang Mulai Menggangguku

Dia sebenarnya orang yang baik. Sopan. Bertanggung jawab.

Kalau janjian selalu tepat waktu. Kalau batal selalu memberi kabar. Tapi ada beberapa momen yang membuatku merasa tidak nyaman.

Misalnya saat kami pergi ke restoran kolaborasi anime.

Tanpa banyak bertanya, dia meminta temannya memesan menu tertentu hanya demi bonus merchandise anime yang dia incar. Yang membayar temannya. Yang dapat bonus pun akhirnya dia yang ambil.

Aku hanya bisa melongo.

Dalam hati berpikir:

"Lho?"

Kalau bersamaku dia selalu sopan.

Tapi saat bersama orang lain, terkadang muncul sisi dirinya yang membuatku bertanya-tanya.


Insiden Museum Ghibli

Salah satu kejadian yang paling berkesan terjadi saat kami pergi ke Museum Ghibli.

Dia mengajak beberapa kenalan baru dari komunitas internasional. Aku tidak masalah. Kupikir akan seru bertemu orang baru.

Awalnya baik-baik saja.

Lalu saat aku sedang menjelaskan sesuatu dengan penuh semangat, tiba-tiba dia mulai mengobrol dengan orang lain.

Aku masih bicara.

Dia sudah pergi.

Aku masih menjelaskan.

Dia sudah berganti lawan bicara.

Saat itu aku merasa seperti NPC (Non-Playable Character) yang dialognya tidak bisa di-skip.

Kalau memang ingin mengobrol dengan yang lain, kan bisa bilang:

"Eh bentar ya."

Atau apa kek.

Biar aku tidak seperti orang yang sedang memberi presentasi kepada angin.

Belum selesai sampai situ.

Saat perjalanan pulang, dia tiba-tiba mengumumkan umurku kepada orang yang baru dikenalnya hari itu. Dengan volume suara yang menurutku terlalu semangat untuk sebuah informasi yang tidak perlu.

Lalu ditambah komentar bahwa aku terlihat lebih muda karena pendek.

Terima kasih.

Sama-sama.

Aku tahu mungkin dia tidak bermaksud buruk. Tapi aku mulai menyadari bahwa standar sopan santun kami berbeda.


Saat Aku Menyadari Bahwa Aku Bukan Bagian dari Mereka

Puncaknya terjadi saat kami pergi menonton film Demon Slayer.

Awalnya hanya berdua.

Lalu, seperti biasa, beberapa hari sebelum hari H dia mengajak teman lain. Setelah film selesai, kami pergi makan dan duduk di cafe.

Di situlah aku sadar sesuatu.

Mereka bertiga sibuk membicarakan rekan kerja mereka. Bergosip. Membahas orang-orang yang sama-sama mereka kenal.

Sementara aku duduk di sana seperti penonton acara yang tidak mengerti alurnya.

Aku tidak kenal siapa yang mereka bicarakan. Aku tidak bisa ikut berkomentar. Aku hanya mendengar.

Dan saat itulah muncul sebuah kesadaran yang pelan tapi menyakitkan.

Aku sering pergi bersama mereka. Tapi aku bukan bagian dari mereka. Aku hanya orang luar yang kebetulan ada di meja yang sama.

Kesadaran itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada komentar apa pun.


Sebuah Kalimat yang Masih Aku Ingat

Di hari yang sama, saat kami mengalami sedikit masalah teknis, salah seorang dari mereka berkata:

"Kamu aja yang handle. Kan kamu yang paling tua."

Jleb.

Aku tahu mungkin maksudnya bercanda. Tapi entah kenapa saat itu rasanya menusuk. Karena mendadak aku merasa bukan teman.

Melainkan "kakak tertua" yang kebetulan diajak ikut.


Pernikahan yang Tidak Pernah Diberitahukan

Beberapa bulan kemudian, saat sedang mengurus persiapan operasi di rumah sakit, seorang anak magang datang ke rumahku untuk meminta bantuan administrasi.

Di tengah obrolan dia tiba-tiba berkata:

"Eh, tahu nggak? Kak xxx udah nikah lho."

Aku hanya menjawab:

"Nggak."

Dia kaget.

Aku pun kaget.

Ternyata teman yang selama bertahun-tahun sering hangout denganku sudah menikah beberapa bulan sebelumnya.

Dan aku tidak pernah diberi tahu.

Padahal sebelum dia pulang ke Indonesia untuk menikah, kami masih sempat bertukar chat. Bahkan jaraknya cuma hitungan hari.

Karena itu aku sulit percaya kalau alasannya hanya "lupa". Kalau memang ingin menjaga privasi, aku menghargai itu. Tapi kalau semua orang tahu kecuali aku, ya wajar kalau aku bertanya-tanya.

Sebenarnya aku ini siapa?


Paket Haikyuu

Setelah operasiku selesai dan masa pemulihan berjalan lancar, tiba-tiba sebuah paket datang.

Isinya merchandise Haikyuu. Lengkap dengan ucapan selamat ulang tahun dan selamat atas keberhasilan operasi.

Hadiah itu ternyata dikirim olehnya. Mungkin itu bentuk perhatian. Mungkin juga bentuk permintaan maaf yang tidak pernah diucapkan.

Aku tidak tahu.

Yang aku tahu, saat itu kepercayaanku sudah habis.

Dan ketika kepercayaan sudah habis, hadiah semahal apa pun tidak akan mengembalikannya.

Aku mengirim paket itu kembali. Lalu ketika dia meminta alamat lengkapku, aku hanya menjawab:

"Maaf, aku tidak membagikan informasi pribadiku."

Singkat.

Jelas.

Selesai.


Hal Terbaik yang Terjadi

Anehnya, setelah semua itu berakhir, aku tidak merasa sedih.

Justru aku merasa lega.

Ringan.

Tenang.

Aku berhenti memikirkan kenapa dia begini.

Kenapa mereka begitu. Kenapa aku tidak diajak. Kenapa aku tidak diberi tahu.

Aku berhenti mencari jawaban.

Kadang kita memang tidak membutuhkan penjelasan. Kadang kita hanya perlu menerima bahwa tidak semua hubungan harus dipertahankan.

Ada teman yang hadir hanya untuk satu bab dalam hidup kita.

Dan tidak apa-apa.

Aku bersyukur pernah mengenal mereka. Tapi aku juga bersyukur karena akhirnya bisa melepaskan mereka.

Dan setelah semua drama, misteri, anime cafe, Museum Ghibli, merchandise Haikyuu, serta teori konspirasi pernikahan rahasia...

hidupku sekarang jauh lebih tenang.

Dan ternyata, tenang itu menyenangkan.


No comments:

Post a Comment

Tentang Teman Main Anime, Tentang Kepercayaan, dan Pelajaran Melepaskan

Beberapa tahun lalu, aku punya seorang teman. Sebenarnya bukan teman dari awal. Kami kenalan karena pekerjaan. Saat itu aku bekerja sebagai ...