Lagi gabut di sela-sela kerja (iya, kerja woooi ๐), saya nemu postingan tentang “10 Hal yang Membuat Bahagia”.
Dan entah kenapa… saya langsung kepikiran:
“Kalau versi saya gimana ya?”
- Sehat badan dan pikiran
Bulan Maret lalu saya operasi miom rahim, dan karena miom di badan saya sangat besar (beratnya sampai 5 kilo!) menyebabkan beberapa organ dalam terdesak miom dan jadi tertekan, terutama rahim dan ovarium sebelah kanan.
Singkat cerita, semua rahim saya diambil dan ovarium pun tinggal tersisa sebelah.
Sakit? Ngga, karena selama operasi saya dibius total #yaeyalah
Alhamdulillah justru saya merasa PLONG banget! Semua rasa sakit saat masih ada miom, hilang semua. Sakit menstruasi, sakit pinggang, sakit punggung dan sakit sebadan-badan, semua hilang.
Karena rasa sakit yang saya derita selama ini hilang, pikiran pun jadi lebih enak. Ngga usah khawatir sakit menstruasi di saat-saat penting, saya bisa beraktivitas lebih baik tanpa sakit badan, pikiran pun plong dan bisa lebih fokus merawat diri menjadi lebih baik ๐
Memang bener ya, kalau badan sehat, pikiran pun ikut sehat. Untuk itu saat ini saya fokus memulihkan kondisi badan, ngga terlalu maksain diri, kalau memang perlu istirahat, saya akan memprioritaskan itu di atas segalanya.
Saat ini memang kondisi saya belum 100% pulih, bahkan mungkin untuk kembali ke kondisi sebelum operasi, akan terasa sulit. Tapi ngga apa-apa, bisa beraktivitas seperti biasa seperti saat ini pun saya amat sangat bersyukur. Ngga harus sempurna, pelan-pelan aja, 70% untuk saya sudah amat sangat cukup ๐
- Tinggal di negara yang saya suka
Tahun ini adalah tahun ke sembilan tinggal di Jepang. Rencana awal yang cuma pengen nyobain satu tahun aja karena pengen ngerasain empat musim-nya Jepang, tahu-tahu udah berjalan sembilan tahun! Haha.
Saya suka Jepang dengan segala keunikannya. Jepang yang tenang, ngga banyak orang kepo, semua serba teratur dari jadwal kereta sampai birokrasi ngurus dokumen.
Semua serba terjadwal, jadi tahu harus siap-siap dari kapan, tahu apa yang bisa diprediksi kalau terjadi hal-hal di luar kendali.
Ditambah teknologi Jepang yang amat sangat memudahkan kehidupan sehar-hari, segala serba canggih dan praktis, tapi tetap mempertahankan rasa tradisional di berbagai aspek.
Saya bukannya benci tanah air saya sendiri, jujur ada banyak hal di negara asal saya yang membuat saya tidak merasa nyaman…
Saya ngga suka dengan budaya orang dalem, budaya patriarki, sok religious tapi banyak pesantren jadi sarang predator, orang-orang kepo dan ngga jaga privasi, polusi dan orang ngerokok sembarangan, hukum yang absurd, serta banyak lagi yang membuat saya ngga harus berpikir ribuan kali kalau mau kembali ke Indonesia.
Saya datang ke Jepang sendirian, ngga ada yang kenal siapa saya, dulu kerja di mana, dari kota mana, pokonya semua asing dan baru.
Mungkin beberapa orang akan merasa kesepian saat sendirian di negeri orang, tapi anehnya saya justru merasa sebaliknya. Ada rasa bebas dan ringan saat saya tinggal di tempat asing, ngga perlu khawatir sama ekspektasi orang, julidan orang, kepo-nya orang-orang, karena disini tidak ada yang kenal saya.
- Punya hobi yang menyenangkan dan menenangkan
Tiga tahun lalu saya mulai menggeluti hobi baru, yaitu Nendroid.
Karena dari dulu saya penggemar anime Jepang, bisa main sama Nendroid dengan karakter yang sama di anime yang saya suka, rasanya menyenangkan banget!
Bisa diajak jalan-jalan, foto-foto estetik (bahkan lebih estetik Nendroid daripada saya yang difoto #nasib๐ข)
Selain itu, ketika saya merakit, mengganti kostum, men-setting pose mereka dan aktivitas lainnya bareng Nendroid, saja jadi lebih fokus. Pikiran-pikiran ngga penting di luar sana yang bikin overthinking pun lupa, distraksi pun bodo amat, selama lagi main sama Nendroid, saya bisa full fokus.
Imbasnya, konsentrasi saya jadi lebih baik, pikiran saya jadi lebih tenang dan sebodo amat sama pikiran, julidan dan kepoan orang-orang toxic di luar sana ๐
- Pekerjaan dan lingkungan kerja yang baik
Tahun pertama tinggal di Jepang, saya kerja di perusahaan yang me-manage Kenshusei/Jisshusei (pekerja magang) di Jepang, sebagai interpreter dan translator, tapi main job itu ternyata cuma di atas kertas.
Actualnya, ngga cuma sebagai interpreter, saya pun harus mengurus kehidupan sehari-hari para pekerja magang, dari mulai kinerja mereka, skill Bahasa jepang mereka, tempat tinggal, bikin akun tabungan, nganter ke rumah sakit, bahkan melerai kalau mereka bertengkar dengan sesama pekerja magang atau di bully sama karyawan Jepang di tempat kerja!
Imbasnya, dari sebulan saya kerja, saya cuma dapat libur (yang beneran libur tanpa gangguan) 2 hari! Iya, dua hari dalam sebulan!
Saat jam kerja selesai pun, saya tetap harus standby 24 jam, smartphone kudu on terus, karena bocah-bocah magang itu suka bikin masalah yang bikin geleng-geleng kepala. Bocah magang ngga tahu diri yang yang bikin masalah kayak kabur itu udah ngga aneh, selalu adaa aja kasus begitu.
Yang paling bikin saya membelalakan mata adalah kasus salah satu bocah magang melahirkan bayinya sendiri di kamar apartment-nya! Kayaknya duluuuu saya pernah cerita lengkap dengan curhatan dan misuh-misuh saya tentang ini. Haha.
Setelah setahun kerja di black company yang hobinya merendahkan para karyawannya itu, saya mencari pekerjaan lain. Tadinya mau balik aja ke Indonesia, kan rencana awalnya cuma setahun di Jepang.
Tapi, dengan kondisi kerjaan semrawut kayak gitu, boro-boro menikmati empat musim di Jepang, bahkan nonton di bioskop saat libur pun saya masih ditelepon ☹
Saya ngga mau balik ke Indonesia dengan hasil begitu, ditambah saya masih punya goal buat lulus Japanese-Language Proficiency Test level N1, saya pun mengirimkan CV ke banyak perusahaan, sambil tetap kerja di tempat yang Sacho (presdir) nya suka nusuk dari belakang #EH
Setelah perjuangan panjang, alhamdulillah saya diterima di tempat kerja sekarang. Awalnya memang berat, apalagi tempat kerja sekarang beneran murni perusahaan Jepang, semua pakai Bahasa Jepang (dan Inggris), kalau ngga ngerti bahasanya bisa ketinggalan, ditambah budaya Jepang yang bener-bener disiplin.
Setelah satu-dua tahun, saya mulai bisa menemukan ritme kerja saya, mulai bisa beradaptasi, mulai banyak ilmu yang saya dapatkan serta mulai bisa menghadapi berbagai macam rekan kerja dengan beragam keunikannya.
Karena meskipun perusahaan Jepang, tempat kerja saya lumayan banyak orang asingnya, dari Amerika, Afrika, Tiongkok, Korea, India, UK, bahkan sampai Myanmar! Wow, senengnya tempat kerja dengan keberagaman yang unik!
Banyak yang bilang kalau kerja di Jepang itu berat, lembur edan-edanan, loyalitas harus totalitas, belum lagi senior-junior yang strict.
Sebenernya itu balik lagi ke kita sih ya.
Dari pengalaman saya selama kerja dan tinggal di Jepang, kalau kepengen dapet kerjaan dan lingkungan yang baik,
skill dan attitude is a MUST!
Dengan banyak skill yang dikuasai dengan baik, makin banyak pula kesempatan dan pilihan kerja, plus saya percaya dengan memupuk attitude dan norma kerja yang baik, kelak itu pun akan kembali ke kita sendiri ๐
Di tempat kerja yang sekarang, puji syukur saya diberkahi boss yang baik dan pengertian banget, tutur bicaranya juga adem, rekan kerja yang baik dan kooperatif, tempat kerja yang nyaman, bisa WFH juga, ditambah hari libur yang banyak!
Bahkan ada tiga kali libur panjang dalam satu tahun, libur musim semi, musim panas dan musim dingin, yang dalam satu kali libur panjang bisa sampai 15 hari! Ditambah lingkungan kerja dimana bisa ngambil cuti tanpa ditanya macem-macem, tanpa ditelepon di tengah liburan.
Buat saya ini amat sangat mempengaruhi kedamaian hidup saya #HALAH karena kalau mau pulang ke Indonesia, bisa plan jauh-jauh hari (karena bisa ngeliat di working calendar), ketika kemarin surgery dan harus off selama seminggu pun, saya bisa surgery dengan tenang.
Terima kasih ya Allah.
- Solo traveling
Ketika saya memutuskan hijrah ke Jepang sendirian, saya pun jadi berani traveling sendiri. Apalagi Jepang aman untuk cewek solo traveling, tiap ada libur panjang pasti saya rencankan buat ngebolang.
Biasanya dalam satu kali ngebolang untuk sekitar satu minggu, saya rencanakan itinerary untuk 3-4 tempat yang destinasinya berdekatan. Misalnya, dari Tokyo → Fukuoka → Kumamoto → Okinawa → kembali ke Tokyo atau yang masih fresh akhir tahun lalu, dari Tokyo → Hita → Yufuin → Beppu → Ehime → kembali ke Tokyo
Moda transportasi pun semuanya saya coba, dari pesawat, Shinkansen, kereta lokal, bis, sampai kapal laut!
Ngebolang berikutnya pengen nyobain area atas, Iwate, Miyagi, Aomori dan sekitarnya. Semoga segera terwujud ya.
Dengan solo traveling, saya belajar banyak hal.
Mulai dari membuat keputusan dengan cepat dan tepat, merencakan hal dengan baik, siap ketika ada hal di luar rencana, jaga emosi ketika ketemu hal yang ngga sesuai ekspektasi, tetap selow dan santey meskipun lagi panik, yang kesemuanya itu menjadi pengalaman dan investasi buat diri sendiri yang ngga ternilai harganya.
Tiap kali tiba di tujuan ngebolang, rasanya seneng dan ada pencapaian tersendiri. Saya yang buta arah, ngga pintar berkomunikasi, banyak bengong, apatis dan skeptis (Haha) ternyata bisa pergi sejauh itu seorang diri tanpa mengandalkan atau ditemani orang lain!
- Ajak mama dan adik ke Jepang
Ini impian saya sejak dulu.
Pengen banget ngajak mama dan adik saya ke Jepang, menikmati Jepang dengan segala keunikan dan keindahannya. Sekalian memperlihatkan juga lingkungan tempat saya tinggal.
Alhamdulillah, tahun ini impian itu akan terwujud!
Beberapa bulan lalu, saya beli tiket pesawat untuk mama dan adik ke Jepang, supaya kerasa kenyamanan, keramahan dan kemewahan Jepang-nya, saya beli yang paling bagus dan nyaman, pakai maskapai ANA direct flight.
Saya mengajak mereka untuk berkunjung ke Jepang di akhir tahun ini, sekalian tahun baruan di Jepang.
Selain jalan-jalan di sekitaran Tokyo dan Kanagawa, saya pun sudah merencakan untuk ke Kanazawa – Ishikawa. Sekalian lihat salju, sekalian merasakan musim dingin yang beneran (karena di Tokyo dan Kanagawa ngga dingin-dingin banget) pokoknya menikmati Jepang selain di Tokyo.
Hotel sudah saya booking, itinerary pun siap, tinggal nyiapin tiket Shinkansen ketika nanti udah dekat hari H. Pokoknya ngebolang bareng mama dan adik!
Rasanya ngga sabar nunggu akhir tahun nanti. Semoga segalanya dilancarkan dan kami diberi kesehatan. Amin.
- Mengurangi orang-orang toxic
Ketika saya surgery, saya jadi banyak merenung dan entah kenapa pikiran saya jadi lebih jernih dan terbuka.
Saya seperti diberi pencerahan mana orang yang layak untuk dipertahankan dan mana yang mending say goodbye aja. Saya seperti bisa melihat orang ini beneran tulus, yang ini cuma kepo, yang ini cuma datang ketika ada maunya, dan banyak lagi.
Disitu saya mulai “decluttering” orang-orang yang ada di sekitar saya.
Saya remove orang-orang di social media saya yang cuma kepo dan datang ketika ada maunya, ngga apa-apa followers saya berkurang, karena saya bukan pemburu followers #TSAH *kibas poni*
saya remove orang-orang yang cuma kelihatan tulus di permukaan, tapi di belakang busuk, saya remove orang-orang yang awalnya saya kira layak untuk dijadikan teman baik dan berbagi, tapi ternyata saya cuma dianggap angin lalu, cuma cadangan, bahkan ngga dikasih tahu hal penting, padahal orang lain dikasih tahu.
Setelah me-remove semua orang-orang unqualified itu, rasanya PLONG banget! Lega dan hidup lebih ringan. Saya ngga harus peduli sama mereka lagi, saya ngga harus tahu mereka lagi ngapain, punya apa, ada event apa,
BODO AMAT!
Dan mereka pun ngga perlu tahu saya lagi apa, punya pencapaian apa, ada update apa,bahkan informasi pribadi saya pun ngga perlu saya bagi dengan mereka.
Hidup ini singkat dan cuma sekali *karena saya ngga percaya sama reinkarnasi* jadi silakan kalian wahai para manusia beracun pergilah jauh-jauh dari saya, ngga usah kepoin saya, karena saya juga ngga peduli sama kalian.
Nyahahahahaha *ketawa jumawa*
- Banyak makanan enak di dekat saya
Tinggal jauh dari tanah air yang punya wisata kuliner buanyaak banget itu sebenarnya agak sedih, apalagi saya suka banget sama makanan Indonesia yang down to earth kayak seblak, bala-bala, cireng, pempek, nasi padang, martabak, cimol, cilok, cakue, surabi, pisang goreng, batagor, bakso, mie tek tek.
Yaowloooh, ngiler!
Memang semua makanan di atas ngga ada di Jepang, kalopun ada harganya mahal dan kadang bumbunya juga beda, atau kalau mau effort bikin sendiri.
Tapi, Japanese food juga ngga kalah enak kok!
Ada sushi, sashimi, yakisoba, takoyaki, udon, oden, yakitori, dorayaki, matcha, dan banyak lagi. Plus kalau makan langsung di negaranya, rasanya tuh beda banget! Apalagi yang pake bahan fresh, mantap!
Alhamdulillah saya ngga kesulitan dalam memilih makanan, semua bisa masuk! Kecuali daging bagong dan alcohol, dan wasabi hahaha. Mending dikasih cabe gendot daripada harus makan wasabi deh!
Selain Japanese food, di Jepang juga banyak makanan dari negara lain. Jadi ngga bakalan bosen kalau soal makanan.
- Tempat tinggal yang nyaman
Lingkungan memang selalu jadi hal yang paling penting demi kedamaian hidup. Haha. Saya ngga akan pernah berhenti bersyukur karena diberi tempat tinggal yang baik dan nyaman.
Tempat tinggal saya yang sekarang berada di area Kanagawa prefektur, sebelahan sama kota Tokyo.
Saya sengaja pilih ke pinggir kota Tokyo, karena ngga begitu suka dengan kota metropolitan yang ramai, kemana-mana dipenuhi lautan manusia dan serba mahal.
Ke Tokyo cukup kalau mau jelong-jelong aja, dari rumah bisa ditempuh dengan satu kali naik kereta selama 45 menit. Tempat tinggal saya cukup dekat dengan stasiun kereta yang cukup ramai dan besar, di sekeliling stasiun pun semua serba ada dan lengkap.
Mulai dari Uniqlo, GU, Muji, KFC, Burger King, McD, Family Restaurant, Starbucks, Mister Donuts, Supermarket AEON, Book Off, Daiso, Komeda, Planetarium, Rumah Sakit Kota, City Hall, Salon, Klinik Gigi, dan banyak lagi.
Semua itu bisa dijangkau cuma tinggal ngesot dari rumah ke stasiun, sekitar 12 menit jalan kaki. Nikmat mana lagi yang kau dustakan.
Tempat tinggal saya berupa apartment dua lantai, saya tinggal di lantai dua, dengan kelengkapan bathroom, toilet, kitchen, beranda, dan satu living room yang lumayan luas untuk saya tinggali. Ada TV, AC, wi-fi kenceng #PENTING haha, air anget, dan fasilitas lainnya.
Yang paling penting adalah ngga bocor saat hujan gede dan saya bisa berlindung di dalam rumah dengan tenang dan aman. Jepang sering dilanda angin topan dan hujan deras, sampai ada peringatan bahaya dan ngga disarankan keluar rumah.
Saya sangat bersyukur bisa tinggal di rumah yang aman dan nyaman ๐
- Anime goods terjual banyak di Mer**ri
Penutupnya gini banget ya. Haha.
Akhir-akhir ini saya lagi mengurangi beli anime goods, karena ujung-ujungnya cuma numpuk di rumah, apalagi merch yang random, trus dapetnya bukan karakter kesukaan saya.
Ketika lagi masa pemulihan setelah surgery, saya banyak menghabiskan waktu di rumah karena belum bisa banyak bergerak. Saat itu saya beres-beres anime merch dan buku-buku koleksi saya.
Ternyata banyak banget!
Sampai pusing dan luka sehabis surgery malah jadi perih gegara kebanyakan beres-beres ☹
Saya kumpulkan semua merch anime, buku, dan barang-barang yang ngga kepake lainnya. Saya foto, lalu bikin deskripsi dibantu sama Chappi (Chat GPT, cyiin), dan posting di free-market.
Hasilnya, selama sebulan ini saya bisa menghasilkan sekitar 60,000 yen! Mantap banget kan?! Dan ini masih berlanjut. Lumayan banget lho! Daripada dibuang, atau dijual di book off yang harganya jatuh banget.
Kebanyakan merch anime yang saya punya masih disegel, atau tag-nya ngga saya buang, dan selalu saya jaga supaya tetap bersih, jadinya pas dijual harganya lumayan, plus banyak juga merch yang udah langka.
Misalnya, kemaren saya iseng jual plushie-nya Yuta & Rika (Jujutsu Kaisen) yang saya beli di Exhibition. Saya iseng lho, pasang harga 6,000 yen, plus masih ada tag-nya juga.
Eh, LAKU!
padahal saya belinya cuma 3,000 yen.
Alhamdulillah, rejeki anak soleh ๐
Pada akhirnya, bahagia itu bukan soal punya segalanya—
tapi sadar kalau hal-hal kecil yang kita jalani sekarang… ternyata sudah lebih dari cukup.
Terima kasih sudah baca sampai sini ๐
No comments:
Post a Comment